SURABYA, Tretan.News – Akademisi Universitas Terbuka (UT) Surabaya, Sucipto, mengusulkan karyawan hotel di Madura mengenakan pakaian khas pada hari tertentu untuk melestarikan budaya lokal.
Usulan tersebut disampaikan pada Kamis (8/10/2026), di tengah perkembangan destinasi wisata dan hotel di Madura.
Sucipto, akademisi asal Kabupaten Sumenep, menilai perkembangan pariwisata perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas budaya masyarakat setempat.
Menurut dia, Madura memiliki beragam destinasi wisata menarik, terutama wisata pantai. Beberapa di antaranya berada di kepulauan Kabupaten Sumenep, seperti Pantai 9 dan Gili Labak.
Potensi wisata juga terdapat di tiga kabupaten lainnya di Madura. Perkembangan destinasi tersebut diiringi bertambahnya penginapan dan hotel yang menyediakan kenyamanan bagi wisatawan.
Di Kabupaten Sumenep, terdapat MYZE Hotel. Sementara itu, Pamekasan memiliki Azana Style Hotel Madura, sedangkan Bangkalan memiliki Hotel Rose dan sejumlah hotel lainnya.
Sucipto menilai perkembangan hotel dan destinasi wisata merupakan hal positif bagi kemajuan daerah, terutama karena berpotensi mendukung pertumbuhan ekonomi.
Namun, ia mengingatkan bahwa pembangunan pariwisata tidak cukup hanya berorientasi pada fasilitas dan jumlah kunjungan wisatawan.
Menurut dia, kemajuan pariwisata juga perlu menjaga identitas budaya Madura yang kuat. Pengusaha hotel dinilai memiliki peran dalam melestarikan sekaligus memperkenalkan budaya lokal.
Salah satu cara yang diusulkan ialah menghadirkan unsur budaya setempat secara langsung dalam pengelolaan perhotelan, termasuk melalui pakaian karyawan.
“Misalnya dengan cara berpakaiannya. Hari-hari tertentu, karyawan bisa memakai batik khas Madura, atau bisa pakaian Sakera-Marlena, atau juga bisa dengan kopiah dan sarung yang identik dengan ciri masyarakat Madura yang religius,” jelas Sucipto.
Ia menilai investasi yang masuk ke Madura, termasuk dari investor luar daerah yang membangun hotel, juga dapat menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi masyarakat setempat.
Menurut Sucipto, penerapan pakaian adat di hotel dapat dilakukan secara terjadwal dengan dukungan dinas pariwisata.
“Ya, nanti itu bisa melalui pakaian misalnya, tinggal dijadwal saja. Tentu ini juga perlu kehadiran dinas pariwisata. Jadi diatur itu nanti, hari apa, dari tujuh hari itu misalnya hari apa yang berpakaian adat, jadi adat setempat,” katanya.
Selain melalui pakaian karyawan, pengenalan budaya lokal dapat dilakukan melalui tayangan visual yang disajikan kepada tamu hotel.
Sucipto mencontohkan tayangan televisi di kamar hotel sebagai media untuk memperkenalkan budaya dan tradisi daerah kepada wisatawan.
“Biasanya ketika kita masuk kamar, itu kan begitu nyala ada tayangan di TV. Nah, di situ juga bisa ditampilkan, sehingga itu untuk menjadi informasi bahwa begini lho, budaya tradisi yang ada di Bangkalan,” ujarnya.
Menurut dia, upaya tersebut tidak harus diterapkan oleh satu hotel saja, tetapi dapat dikembangkan secara lebih luas di sektor perhotelan.
Penyebaran informasi mengenai budaya lokal juga dapat dilakukan melalui media sosial yang kini semakin mudah dimanfaatkan.
“Sekarang kan gampang, tinggal memanfaatkan media-media sosial. Itu juga untuk sosialisasi bahwa nilai-nilai budaya yang ada di Bangkalan itu tidak sama dengan persepsi orang yang selama ini dibayangkan,” ungkapnya.
Sucipto berharap penguatan budaya melalui sektor pariwisata dapat memperlihatkan sisi lain Madura, terutama kesantunan, tradisi, dan nilai-nilai lokal yang hidup di masyarakat.
Dengan demikian, wisatawan diharapkan tidak hanya mendapatkan pengalaman mengunjungi destinasi wisata, tetapi juga mengenal nilai-nilai yang sesuai dengan adat istiadat masyarakat setempat.
“Sehingga begitu orang datang ke Bangkalan, itu kesannya, kenangan yang didapat itu ya memang nilai-nilai sesuai dengan adat istiadat. Bukan justru yang dibayangkan selama ini, misalnya dengan kekerasan dan lain sebagainya,” tuturnya.
Untuk penerapannya di hotel, ia menyebut unsur budaya dapat dikemas dengan menyesuaikan karakter dan standar pelayanan perhotelan.
Salah satu pilihannya ialah menggunakan batik dengan motif yang dikenal sebagai ciri khas Bangkalan.
“Bisa dua nanti, pakaian itu, batik satu, artinya batik sesuai dengan motif yang terkenal di Bangkalan. Yang kedua adalah seperti baju Sakera misalnya. Nah, itu bisa ditampilkan atau nanti ada inovasi sendiri,” paparnya.
Sucipto juga menilai pakaian Sakera dapat dimodifikasi dengan desain lebih modern tanpa menghilangkan karakter utamanya.
“Untuk saat ini barangkali itu bisa menampilkan yang Sakera. Bisa menggunakan sarung, misalnya sarung,” katanya.
Ia membuka kemungkinan penggunaan sarung dengan konsep modern agar tetap sesuai dengan standar pakaian karyawan hotel.
“Jadi tetap pakai celana, tapi separuhnya itu ditutup sarung misalnya,” ujar Sucipto.
Menurut dia, penggunaan sarung secara langsung perlu mempertimbangkan standar pakaian yang berlaku di hotel. Karena itu, ia mengusulkan modifikasi agar unsur budaya tetap dapat ditampilkan.
“Atau juga karena itu nanti, kalau hotel itu langsung dia pakai sarung akan menurun, takut ini nanti kontradiktif dengan standar-standar yang ada di hotel. Hingga nanti modifikasinya saja begitu,” pungkasnya. (*)








