Akademisi Sucipto Dorong Surabaya Perkuat Paket Sport Tourism, Rute dan Sosialisasi Jadi Perhatian

SURABAYA, Tretan.News – Akademisi sekaligus Dosen Pariwisata Universitas Terbuka (UT) Surabaya, Sucipto, mendorong pemerintah daerah memperkuat paket wisata olahraga atau sport tourism melalui perencanaan rute dan sosialisasi kepada masyarakat.

Menurut Sucipto, tren olahraga di ruang publik setelah pandemi Covid-19 membuka peluang bagi sektor pariwisata dan perekonomian daerah.

Ia menyampaikan pandangan tersebut pada Minggu (11/10/2026). Aktivitas bersepeda, jogging, dan ajang lari, menurutnya, berpotensi menarik peserta dari luar daerah.

“Setelah atau pasca-Covid, masyarakat secara umum punya kesadaran untuk olahraga, baik itu bersepeda maupun jogging. Namun, belakangan ini tren yang berkembang adalah sport tourism,” jelas Sucipto.

Akademisi asal Kabupaten Sumenep, Madura, itu menilai Surabaya memiliki peluang untuk memperkuat posisinya sebagai tujuan penyelenggaraan berbagai kegiatan olahraga.

Namun, ia mengingatkan bahwa penyelenggaraan acara harus disertai perencanaan matang agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat.

Salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian adalah penentuan rute. Sucipto menilai perencanaan jalur perlu melibatkan kepolisian dan pemangku kepentingan terkait.

Pengaturan tersebut diperlukan agar kegiatan berlangsung tertib, sementara mobilitas warga dan aktivitas kota tetap terjaga.

Sucipto juga menilai event olahraga berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi daerah, terutama melalui kedatangan peserta dari luar kota.

“Bayangkan saja kalau satu kali event itu bisa mendatangkan ribuan orang dari luar kota. Berarti bisa dibayangkan bagaimana okupansi hotel itu pasti akan naik. Artinya, dampak secara ekonominya bagus,” ujarnya.

Menurut dia, manfaat ekonomi tidak hanya berpotensi dirasakan sektor perhotelan, tetapi juga pelaku usaha lain yang memenuhi kebutuhan peserta.

Karena itu, ia mendorong pelibatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal dalam rangkaian kegiatan wisata olahraga.

Sucipto juga menilai Jawa Timur memiliki potensi untuk mengembangkan ajang lari yang menawarkan pengalaman menjelajahi kawasan alam, termasuk pegunungan.

“Belum lagi yang belum dimaksimalkan khusus Jawa Timur itu adalah event-event lari yang bisa menjelajah, misalnya gunung. Sementara keindahan gunung kita punya banyak,” katanya.

Menurut Sucipto, pengembangan kegiatan tersebut perlu mempertimbangkan keterlibatan masyarakat setempat agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara langsung.

Surabaya Berpeluang Jadi Pusat Wisata Olahraga

Sucipto menilai Surabaya memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai pusat penyelenggaraan event lari dan sport tourism di Jawa Timur.

Sebagai ibu kota Provinsi Jawa Timur, Surabaya dinilai memiliki daya tarik untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan olahraga.

Frekuensi event yang berlangsung hampir setiap bulan, bahkan pada akhir pekan tertentu, menunjukkan besarnya ruang pengembangan kegiatan tersebut.

Agar potensi itu semakin optimal, Sucipto mendorong pemerintah daerah menyiapkan paket wisata khusus yang terintegrasi dengan agenda olahraga di Surabaya.

Paket tersebut dapat disesuaikan dengan jenis kegiatan, seperti fun run, sehingga peserta memiliki pilihan aktivitas wisata selama berada di kota tersebut.

“Pemerintah daerah itu punya paket khusus untuk event. Misalnya, kalau fun run, paketnya begini dan begitu. Sehingga ada paket-paket wisata khusus untuk sport tourism di Jawa Timur, khususnya di Surabaya,” ungkapnya.

Ia menilai pengembangan paket wisata perlu berjalan beriringan dengan pengaturan lalu lintas untuk mengantisipasi kemacetan akibat penutupan atau pengalihan arus selama acara.

Penyelenggara dan pemerintah perlu menyiapkan skenario lalu lintas, memetakan jalur, serta berkomunikasi dengan warga yang terdampak.

Sucipto mengingatkan bahwa kurangnya koordinasi dapat memengaruhi penerimaan masyarakat terhadap kegiatan olahraga.

“Jangan sampai adanya event sport tourism ini banyak mendapatkan nilai jelek dari masyarakat, terutama karena membuat kemacetan. Bagaimana skenario ini yang perlu dilakukan bersama sehingga keberadaan event itu membuat semua orang senang,” tegasnya.

Sosialisasi Perlu Menjangkau RT dan RW

Selain pengaturan teknis, Sucipto menekankan pentingnya sosialisasi kepada masyarakat sebelum sebuah event diselenggarakan.

Informasi mengenai jadwal, rute, pengalihan arus, serta dampak kegiatan perlu disampaikan secara luas agar warga dapat menyesuaikan aktivitasnya.

Menurut dia, sosialisasi sebaiknya tidak berhenti pada tingkat kota atau kecamatan, tetapi menjangkau kelurahan hingga lingkungan RT dan RW.

Ia menilai Surabaya memiliki saluran komunikasi masyarakat yang cukup baik hingga tingkat lingkungan. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memastikan informasi mengenai setiap kegiatan tersampaikan secara merata.

“Perlu pendekatan-pendekatan khusus, sosialisasi bahkan sampai kepada kelurahan. Bagaimana setiap kali event itu bisa tersosialisasikan kepada masyarakat di level RT dan RW. Saya rasa saluran media komunikasi di Kota Surabaya itu sangat bagus, bahkan sampai level RT dan RW,” paparnya.

Sucipto berharap pengembangan sport tourism dapat dilakukan melalui kolaborasi pemerintah, penyelenggara, pelaku usaha, dan masyarakat.

Dengan perencanaan rute yang matang, paket wisata yang menarik, serta pelibatan UMKM dan warga lokal, event olahraga diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kenyamanan masyarakat.

Bagi Surabaya dan Jawa Timur, tren tersebut menjadi peluang untuk memperkuat daya tarik wisata melalui kegiatan olahraga yang terencana, inklusif, dan berkelanjutan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *