Merajut Frekuensi: Wajah Baru KJJT Surabaya Perkuat Barisan Jurnalis

Artikel390 Dilihat

TRETAN.news – ​Suasana hangat menyelimuti sebuah sudut pertemuan di Kota Surabaya, Minggu (4/10/2026). Puluhan jurnalis berkumpul, menanggalkan sejenak letih rutinitas dan tekanan menembus berita.

​Hari itu, mereka duduk bersama bukan untuk membedah isu politik atau mengusut kriminalitas, melainkan membenahi ‘rumah’ mereka sendiri.

Di tubuh KJJT Indonesia wilayah Surabaya, kebersamaan dan persamaan visi bukan sekadar jargon, melainkan ruh yang menghidupkan roda organisasi.

​Menjelang sore, Ketua KJJT Indonesia wilayah Surabaya, M. Umar, membuka diskusi dengan tenang namun tegas.

Ia membawa agenda krusial untuk memastikan perahu organisasi ini berlayar dengan kompas yang akurat.

​Langkah pertamanya dimulai dari hal yang paling mendasar: membenahi administrasi dan merajut kembali identitas para jurnalis.

​Identitas Resmi sebagai Basis Perjuangan

​Dalam dunia jurnalistik, profesionalisme bermula dari legalitas dan identitas yang jelas.

M. Umar memprioritaskan penertiban Kartu Tanda Anggota (KTA) sebagai fondasi awal membangun kedisiplinan organisasi.

​”KTA ini bukan sekadar secarik kertas. Ini adalah identitas resmi,” ujar Umar di hadapan rekan-rekannya.

Ia menatap lekat, menyiratkan keseriusan seorang pemimpin yang ingin melindungi anggotanya.

​Menurutnya, pendataan yang rapi akan melindungi jurnalis di lapangan sekaligus menjaga muruah organisasi dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Kita butuh keanggotaan yang jelas dan terdata dengan baik, agar langkah ke depan lebih terarah,” tambahnya.

​Menempatkan Potensi pada Porsinya

​Pembenahan KJJT tidak berhenti pada urusan kartu identitas. Membangun wadah jurnalis berarti mengelola berbagai kepala dengan insting dan keahlian yang berbeda.

Ada yang tajam mengendus berita di lapangan, cerdik melobi narasumber, hingga piawai meracik diksi dan mengelola manajemen redaksi.

​Menyadari keberagaman bakat ini, Umar merancang struktur pengurus bukan berdasarkan sekadar penunjukan, melainkan membaca potensi masing-masing kader.

​”Setiap anggota harus bisa menempati posisi yang paling sesuai dengan keahliannya. Jika mereka berada di tempat yang tepat, program organisasi pasti berjalan maksimal,” ungkap Umar dengan nada optimis.

​Ia meyakini KJJT Indonesia wilayah Surabaya harus memiliki cetak biru kerja yang terukur.

Arah yang jelas akan memandu setiap individu untuk berhenti menjadi penonton dan mulai berkontribusi secara nyata di bidangnya masing-masing.

​Memulai dari Rumah Sendiri

​Diskusi sore itu bermuara pada satu harapan besar. Langkah strategis penataan anggota dan struktur ini diharapkan mampu merapatkan barisan, memperkuat soliditas, dan memantik potensi tersembunyi para jurnalis.

​Kopi di meja mungkin telah tandas seiring berakhirnya pertemuan. Namun, nyala semangat yang lahir di Surabaya hari itu baru saja berkobar.

Sebuah pembuktian sederhana: sebelum mencerahkan publik melalui karya jurnalistik, seorang pewarta harus terlebih dahulu selesai dalam menata rumah dan identitas profesinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *