Viral Dua Nenek di Gubuk Reyot, Muhammadiyah Salurkan Bantuan

Berita, Sosial369 Dilihat

SAMPANG, Tretan.News – Kisah pilu dua nenek kakak beradik yang bertahan hidup di rumah reyot tak layak huni di Dusun Lenteng Barat, Desa Nyiloh, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, akhirnya mengetuk banyak hati. Paska viral di media sosial, bantuan kemanusiaan pun mulai berdatangan.

Minggu (18/1/2026) siang, Komunitas Alumni Haji dan Umroh Muhammadiyah Jawa Timur Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Tejo, bersama Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Kabupaten Sampang turun langsung ke lokasi untuk menyerahkan bantuan kepada dua nenek bersaudara tersebut.

Keduanya adalah Masdijha (70) dan Patha (60), yang selama bertahun-tahun hidup di sebuah gubuk berdinding anyaman bambu berukuran sekitar 5 x 7 meter.

Bangunan itu nyaris roboh, bocor di berbagai sisi, dan tak mampu melindungi penghuninya dari panas terik maupun hujan deras.

Dalam penyaluran bantuan tersebut hadir Ketua Lazismu Sampang Suwadi, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kedungdung Abdul Qorib, beserta rombongan.

Ketua PCM Kedungdung Abdul Qorib menjelaskan, bantuan yang diberikan merupakan hasil kepedulian kolektif warga Muhammadiyah paska mencuatnya kondisi dua nenek tersebut ke ruang publik.

“Bantuan ini berasal dari komunitas alumni haji dan umroh Muhammadiyah Jawa Timur serta Lazismu Sampang, sebagai bentuk kepedulian setelah kondisi dua nenek ini viral dan diketahui banyak pihak,” ujar Qorib.

Bantuan yang diserahkan meliputi lemari, perlengkapan alat salat, paket sembako, pakaian, serta uang tunai. Untuk bantuan sembako dan alat salat berasal dari komunitas alumni, sedangkan bantuan uang tunai disalurkan langsung oleh Lazismu Sampang.

Lebih dari sekadar bantuan logistik, kondisi tempat tinggal kedua nenek menjadi perhatian utama. Saat hujan turun, air kerap masuk dari atap dan dinding rumah hingga menggenangi lantai. Bahkan untuk memasak pun mereka sering kali tak bisa melakukannya.

Kondisi semakin memprihatinkan karena Masdijha kini hanya bisa terbaring lemah setelah mengalami patah tulang akibat terjatuh ke dalam sumur.

Ia menjalani hari-harinya di atas tempat tidur sederhana tanpa alas yang layak, dengan penerangan rumah yang hanya bergantung pada sambungan listrik dari tetangga.

Menanggapi kondisi tersebut, Qorib menyampaikan bahwa Muhammadiyah tidak berhenti pada bantuan darurat semata. Pihaknya akan mengupayakan langkah lanjutan agar kedua nenek bisa menempati rumah yang lebih layak.

“Jika belum ada pihak yang membantu pembangunan rumah, kami akan berkoordinasi dengan Muhammadiyah Jawa Timur hingga pusat. Harapannya juga ada perhatian dari pemerintah setempat agar dua nenek ini bisa hidup lebih manusiawi,” tegasnya.

Ia berharap, viralnya kisah dua nenek bersaudara ini tidak hanya berhenti sebagai cerita menyentuh di media sosial, melainkan menjadi awal perubahan nyata dalam kehidupan mereka.

“Bantuan ini memang belum seberapa, tapi setidaknya bisa meringankan beban hidup mereka. Kondisinya benar-benar mengetuk hati siapa pun yang melihat langsung,” pungkas Qorib.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *