Tiga Ormas Madura Bersatu, Bamus Madura Menanti Diluncurkan

Berita, Sosial23 Dilihat

BANGKALAN, tretan.news — Suasana hangat menyelimuti Gedung Rato Ebuh, Bangkalan, Rabu (1/4/2026). Tiga organisasi kemasyarakatan besar Madura yang tergabung dalam Madas Sedarah berkumpul dalam satu momen halal bihalal, merayakan kebersamaan setelah sebulan penuh berpuasa, sekaligus menyuarakan satu agenda yang kian mendesak peluncuran Badan Musyawarah Madura (Bamus Madura).

Bukan pertemuan biasa. Di deretan kursi yang memenuhi ruangan, hadir Wakil Gubernur Jawa Timur, Bupati dan Wakil Bupati Bangkalan, serta ratusan perwakilan ormas dari berbagai penjuru Madura. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa halal bihalal kali ini membawa muatan lebih dari sekadar tradisi tahunan ia adalah konsolidasi.

Satu Jiwa, Tiga Organisasi

Di hadapan para tamu dan anggota yang hadir, Ketua Umum Madas Sedarah, Taufik, menyampaikan pesan yang langsung menyentuh akar identitas ke-Maduraan. Ia tidak berbicara tentang perbedaan struktural antara ketiga ormas, melainkan tentang apa yang menyatukan mereka.

“Acara ini menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi seluruh anggota Madas. Meskipun ada tiga ormas Madas, namun jiwanya tetap satu sataretanan sittong dere,” ujar Taufik.

Ungkapan dalam bahasa Madura itu sataretanan sittong dere, yang berarti “satu persaudaraan, satu darah” bukan sekadar retorika. Bagi komunitas Madura yang kuat memegang nilai kekerabatan, kalimat itu adalah janji sekaligus pengingat: perbedaan nama organisasi tidak boleh melemahkan ikatan yang lebih dalam.

Bamus Madura: Dari Wacana Menuju Kenyataan

Namun kebersamaan emosional saja, bagi Taufik, belumlah cukup. Ia mendorong agar soliditas yang terbangun dalam momen halal bihalal ini segera ditopang oleh struktur yang konkret yakni pembentukan Bamus Madura.

“Peluncuran Badan Musyawarah Madura sangat penting untuk segera dilaksanakan agar mempermudah koordinasi seluruh anggota yang ada. Dengan adanya Bamus Madura, diharapkan seluruh potensi yang dimiliki masyarakat Madura dapat terorganisir dengan baik,” tegasnya.

Bamus Madura digagas sebagai wadah koordinasi lintas ormas sebuah forum musyawarah yang memungkinkan berbagai elemen masyarakat Madura berbicara dengan satu suara, terutama dalam menghadapi tantangan pembangunan daerah yang kian kompleks.

Urgensi pembentukan badan ini bukan tanpa alasan. Madura, dengan empat kabupatennya Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, kerap menghadapi persoalan koordinasi antar-wilayah yang membutuhkan wadah representasi bersama.

Adat sebagai Fondasi

Di bagian akhir sambutannya, Taufik mengingatkan bahwa seluruh ikhtiar ini harus berakar pada nilai-nilai yang telah lama menjadi identitas Madura.

“Halal bihalal ini juga bagian penting dalam menjunjung tinggi nilai-nilai adat Madura, kultural Madura, yang harus terus kita lestarikan,” pungkasnya.

Pernyataan itu seolah menjadi benang merah dari seluruh kegiatan: bahwa langkah ke depan, sekompleks apa pun agenda politiknya, tetap harus berpijak pada kearifan lokal yang telah mengakar.

Ketika para tamu berpamitan dan ruangan Gedung Rato Ebuh perlahan sepi, satu pertanyaan menggelantung di udara: kapan Bamus Madura benar-benar diluncurkan? Jawabannya, tampaknya, sedang dinantikan oleh banyak pihak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *