SAMPANG, Tretan.News – Tangis haru Masdijha (70) pecah saat matanya menatap rumah kecil yang selama puluhan tahun menjadi saksi pahit-manis hidupnya. Dinding anyaman bambu yang dulu rapuh kini berdiri kokoh, atap bocor yang kerap menghantui setiap musim hujan telah tergantikan.
Di usia senja, Masdijha bersama adiknya, Patha (60), akhirnya bisa merasakan tinggal di rumah yang layak dan aman.
Renovasi rumah dua nenek bersaudara yang berada di Desa Nyiloh, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang itu dilakukan oleh Organisasi Masyarakat (Ormas) Madura Asli (Madas) DPC Sampang, Sabtu (31/1/2026).
Aksi sosial tersebut merupakan realisasi janji yang disampaikan saat kunjungan awal, sekaligus bentuk kepedulian terhadap lansia yang hidup dalam keterbatasan.
Sebelum direnovasi, kondisi rumah mereka nyaris roboh. Anyaman bambu telah lapuk dimakan usia, lantai tanah kerap tergenang air ketika hujan turun, sementara atap bocor memaksa kedua nenek itu bertahan di sudut rumah yang tersisa kering. Dengan kondisi fisik yang kian menurun, mereka hanya bisa pasrah menjalani hari demi hari.
Kesulitan semakin berat ketika Masdijha mengalami patah tulang akibat terjatuh ke dalam sumur saat hendak mengambil air. Sejak peristiwa itu, ia lebih banyak terbaring lemah di tempat tidur.
Sementara Patha, yang juga memiliki keterbatasan fisik, tak mampu berbuat banyak selain mengandalkan bantuan para tetangga dan perhatian dari pemerintah desa.
Usai rumah selesai direnovasi, rasa haru tak lagi terbendung. Dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar, Masdijha menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kepedulian yang ia terima.
“Kami dari dulu punya keinginan, tapi tidak punya biaya. Dulu kalau hujan kami hanya bisa pasrah. Sekarang rumah ini sudah kuat, tidak bocor lagi. Rasanya seperti mimpi. Terima kasih kepada semua yang sudah peduli,” ucap Masdijha lirih.
Meski masih terbaring di tempat tidur karena kondisinya, Masdijha mengaku memiliki semangat besar untuk segera pulih dan kembali beraktivitas setelah melihat rumahnya kini jauh lebih layak dan aman untuk ditinggali.

Haru juga dirasakan oleh Patha. Baginya, rumah bukan sekadar tempat berteduh, melainkan rasa aman yang selama ini tak pernah mereka miliki.
Ia mengaku kini lebih tenang, terlebih kondisi dapur yang sebelumnya menyatu dengan tempat tidur, kini telah terpisah dan dilengkapi kompor gas serta tabung LPG.
“Kami sudah tua dan tidak punya apa-apa. Bantuan ini sangat berarti bagi kami. Sekarang kami merasa lebih aman dan nyaman. Semoga semua kebaikan ini dibalas oleh Allah,” tutur Patha dengan mata berkaca-kaca.
Dalam ungkapan polosnya menggunakan bahasa Madura, Patha mengaku terharu saat melihat rombongan Madas datang dan benar-benar merealisasikan janji renovasi rumah yang telah lama mereka nantikan.
“Saya bersyukur sekali. Sudah lama kami menunggu, dan ternyata benar-benar dikerjakan dalam satu hari. Terima kasih, Pak,” ungkapnya.
Patha juga bercerita bahwa selama ini ia kerap mendapat bantuan dari pihak desa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, baik berupa beras maupun uang tunai.
Namun, di tengah keterbatasan itu, ia hanya berharap masih ada jalan agar kebutuhan hidup mereka dapat terus terpenuhi.
“Saya hanya berharap bagaimana caranya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari,” harapnya.
Kisah pilu dua nenek bersaudara ini sebelumnya sempat viral dan menyentuh hati banyak orang. Melalui renovasi rumah tersebut, Madas Sampang berharap kehadirannya mampu menghadirkan secercah harapan baru bagi Masdijha dan Patha, sekaligus menjadi pengingat bahwa kepedulian kecil dapat membawa perubahan besar bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan.







