Suramadu Disakiti, Kokoh di Luar Rapuh di Dalam

Penulis Esai : Umar Zeedhenk 

Artikel, Berita91 Dilihat

TRETAN.news – Di negeri yang sering kali penuh ironi, sesuatu yang besar kadang justru hilang secara perlahan tanpa suara, tanpa riuh. Seperti yang terjadi di Jembatan Suramadu, jembatan kebanggaan yang selama ini dipercaya kokoh, namun diduga “dikurangi” sedikit demi sedikit.

Bukan oleh waktu.
Melainkan oleh tangan-tangan yang seharusnya tahu risiko.

Aparat penegak hukum mengamankan tujuh orang terduga pelaku yang diduga telah berulang kali mencopot komponen logam dari tiang pancang jembatan.

Jumlahnya tidak kecil, lebih dari 120 kilogram, dalam aksi yang disebut terjadi hingga puluhan kali.

Jika benar demikian, maka yang terjadi bukan lagi sekadar pencurian biasa. Ada pola, ada pengulangan, dan ada keberanian yang, entah bagaimana, terus menemukan celah.

Besi-besi itu kemudian diduga diperjualbelikan dengan nilai yang tidak sedikit. Sebuah ironi, sesuatu yang menopang keselamatan banyak orang, berubah menjadi komoditas.

“Biarlah aparat hukum yang mewakili kemarahan kita. Sebab yang tersisa di benak ini hanya satu pertanyaan: apa sebenarnya yang dipikirkan para pelaku?”

Pertanyaan itu terasa menggantung, tanpa jawaban yang sederhana. Sebab apa yang dilakukan sulit disederhanakan hanya sebagai tindakan nekat.

“Apa yang mereka lakukan bukan sekadar nekat dan sulit dipercaya jika semua itu hanya karena alasan ekonomi semata.”

Di titik ini, publik tidak hanya dihadapkan pada persoalan hukum, tetapi juga pada persoalan nalar. Bagaimana mungkin bagian dari infrastruktur vital bisa dicopot berulang kali tanpa segera terdeteksi?

Di atas jembatan, kendaraan tetap melintas seperti biasa. Roda berputar, lampu menyala, dan perjalanan berlangsung tanpa jeda.

Namun di bawahnya, ada cerita yang tak semua orang lihat tentang bagian yang hilang, tentang fungsi yang berkurang, dan tentang risiko yang diam-diam ikut tumbuh.

“Di balik setiap potongan besi yang dicabut diam-diam, ada kesadaran yang ikut dilepas: tentang risiko, tentang keselamatan, tentang nyawa orang lain yang melintas tanpa tahu apa-apa.”

Satirnya mungkin terletak di sini: kita membangun sesuatu dengan perhitungan yang rumit, tapi merusaknya dengan cara yang sederhana.

Kasus ini kini ditangani aparat, dan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Namun peristiwa ini menyisakan satu catatan penting, bahwa menjaga infrastruktur bukan hanya soal membangun, tetapi juga soal mengawasi.

Dan di tengah semua itu, publik hanya bisa berharap satu hal, agar jembatan yang setiap hari dilintasi ini tidak hanya tampak kuat, tetapi benar-benar aman.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *