Mengapa Gresik Disebut “Permata dari Jawa”? Menyingkap Tabir Kejayaan Sang Bandar Kuno

Berita41 Dilihat

Gresik, Tretan.News – Bayangkan sejenak kita sedang duduk di sebuah kedai kopi yang tenang, di mana aroma kopi berpadu dengan hembusan angin laut. Di luar sana, langit Gresik mungkin tampak abu-abu oleh asap industri, dan telinga kita bising oleh deru truk-truk besar. Namun, jika kita mampu mengupas lapisan jelaga industri itu, kita akan menemukan sebuah kilau yang nyaris terlupakan.

Jauh sebelum kota ini dikenal sebagai “Kota Semen” atau pusat petrokimia, penjelajah Portugis Tomé Pires dalam mahakaryanya Suma Oriental telah menyematkan gelar yang sangat agung: The Jewel of Java. Mari kita letakkan peta modern kita sejenak, dan izinkan saya membawa Anda melintasi waktu ke abad ke-15, saat Gresik bukan sekadar titik di pesisir utara, melainkan pusat gravitasi ekonomi dunia.

1. Kedaulatan Spiritual di Balik Hilangnya Sumur Kesepuluh

Jika kita menyusuri Dusun Sumur Songo di Kelurahan Sidokumpul, kita akan mendengar bisikan legenda yang masih dijaga oleh sosok seperti Mbah Amin dan sejarawan Kris Adji. Ini adalah kisah tentang Nyai Ageng Tumengkang Sari, putri Sunan Wruju sekaligus cucu kesayangan Sunan Giri. Parasnya yang molek memikat seorang pangeran Majapahit, namun di sinilah drama sesungguhnya bermula: cinta yang terbentur tembok keyakinan.

Nyai Tumengkang Sari mengajukan syarat yang sekilas mustahil—sebuah gema dari mitos Roro Jonggrang—yakni sepuluh sumur yang harus digali dalam semalam. Sang pangeran nyaris berhasil, namun saat fajar menyingsing, ia hanya menemukan sembilan. Sumur kesepuluh raib, “diduduki” oleh sang Nyai yang terus memanjatkan doa dalam persembunyiannya. Dalam keheningan sembilan sumur yang tersisa, kita tidak hanya melihat cerita mistis, melainkan sebuah pesan tentang kedaulatan spiritual yang melampaui baja pengaruh Majapahit. Di sini, prinsip keyakinan berdiri lebih tinggi daripada sekadar takhta politik.

2. Nyai Ageng Pinatih: Arsitek Birokrasi Maritim Nusantara

Salah satu hal paling memikat saat kita membedah sejarah Gresik adalah peran perempuan dalam kemudi ekonomi. Mari kita bicara tentang Nyai Ageng Pinatih. Sejarah mencatatnya sebagai Syahbandar perempuan pertama di Nusantara, namun identitasnya sendiri adalah sebuah teka-teki indah yang menunjukkan kemajemukan kita. Beberapa sumber menyebutnya putri Shi Jinging dari Tiongkok, sementara yang lain mengenangnya berasal dari Samboja (Kamboja).

Ia bukan sekadar ibu angkat Sunan Giri; ia adalah CEO dari sebuah sistem perdagangan yang sangat tertib. Ia mengelola bea cukai dengan kecakapan yang membuat para pedagang Arab, Tiongkok, hingga Gujarat segan sekaligus percaya.

“Nyai Ageng Pinatih menerapkan sistem penarikan bea cukai yang efektif, menciptakan regulasi yang memastikan pelabuhan berjalan seperti jam dinding yang presisi. Di tangannya, Gresik bukan lagi sekadar pelabuhan singgah, melainkan sebuah institusi ekonomi global.”

Struktur sosial Gresik saat itu begitu progresif; otoritas ekonomi tertinggi dapat dipegang oleh seorang perempuan bukan karena garis keturunan semata, melainkan karena keahlian bermanuver dalam jaringan dagang internasional.

3. “The Jewel of Java” dan Jejak Jao-t’ung

Mengapa Tomé Pires begitu terpesona? Secara teknis, posisi geografis Gresik adalah anugerah Tuhan. Terlindung dari ganasnya angin laut terbuka namun cukup dalam untuk disinggahi kapal-kapal bermuatan berat, Gresik adalah “gudang dunia” di mana Mediterania bertemu dengan Pasifik. Dalam catatan Tiongkok kuno, wilayah ini bahkan memiliki nama sendiri: Jao-t’ung (Jaratan).

Namun, jauh sebelum bangsa Eropa datang, Piagam Karang Bogem (1387) telah membuktikan bahwa Gresik sudah berdenyut. Bayangkan, di era itu, industri belacan (terasi) dan garam sudah menjadi pilar ekonomi yang mapan. Saat Pires tiba, ia menemukan pelabuhan yang banjir dengan komoditas mewah: porselen biru Tiongkok, kain sutra, emas, gading, dan tentu saja rempah-rempah Maluku. Gresik adalah jembatan yang menyatukan hasil bumi Timur dengan ambisi pasar Barat di Malaka. Ia adalah titik tengah dunia yang sesungguhnya.

4. Kampung Global: Ketika Lima Bahasa Bersahutan di Satu Pasar

Istilah Global Village mungkin terasa sangat modern bagi kita, namun bagi warga Gresik abad ke-15, itu adalah kenyataan sehari-hari. Jika Anda berjalan di pasar Gresik kala itu, Anda mungkin akan mendengar lima bahasa berbeda dalam satu langkah kaki. Toponimi kota ini adalah arsip hidup dari globalisme tersebut.

Kita melihat Kampung Arab dan Pecinan berdiri berdampingan. Ada Pekelingan (Kampung Keling) untuk para saudagar India, dan Kampung Kemasan bagi para bangsawan Palembang. Namun, lihatlah lebih dekat pada “zona ekonomi” mereka:

  • Kampung Jraganan: Di sinilah para juragan atau pemodal (tengkulak besar) mengatur aliran uang.
  • Blandongan: Pusat para jenius perkapalan yang membangun dan memperbaiki jung-jung raksasa.

Tata kota ini adalah bukti bahwa kemajemukan etnis bukanlah beban, melainkan mesin penggerak yang menjadikan Gresik metropolis internasional yang harmonis.

5. Dilema Kolonial dan “Pencekikan” Sang Permata

Masa kegelapan Gresik tidak datang karena bencana alam, melainkan melalui desain kebijakan kolonial Belanda pada abad ke-18 dan ke-19. Ini adalah kisah tentang sebuah “pencekikan” ekonomi. Belanda secara sadar ingin membesarkan Surabaya dengan mengorbankan Gresik.

Titik baliknya terjadi pada tahun 1825. Sebuah kebijakan dikeluarkan untuk melarang persinggahan kapal-kapal dari Bugis, Maluku, dan Bangka di pelabuhan ini. Dampaknya fatal. Status Gresik yang tadinya adalah Collecting Center (pusat pengumpul) mandiri yang kaya, dipaksa turun kasta menjadi sekadar pendukung industri militer dan pertanian Belanda. Kebijakan politik yang sentralistik mengubah “Permata” ini menjadi halaman belakang industri yang berdebu.

Menatap Masa Depan: Reclaiming the Soul

Gresik saat ini memang tidak kehilangan cahayanya, namun ia sedang bertransformasi. Melalui proyek raksasa JIIPE (Java Integrated Industrial and Port Estate) dan pembangunan smelter tembaga terbesar, pemerintah seolah ingin memanggil kembali ruh kejayaan masa lalu.

Namun, pertanyaan reflektif bagi kita semua yang mencintai sejarah adalah: Apakah “kembali jaya” hanya berarti menambah deretan pabrik dan angka ekspor? Ataukah kita mampu merebut kembali jiwa Gresik sebagai pintu gerbang global yang cerdas, inklusif, dan berdaulat secara spiritual seperti di era Nyai Ageng Pinatih?

Jika sejarah adalah sebuah siklus, maka tahun 2029 nanti akan menjadi ujian bagi sang Permata: Mampukah ia benar-benar kembali bersinar dengan cahayanya sendiri, ataukah ia akan tetap tersembunyi di balik bayang-bayang industri? Mungkin, jawabannya ada pada cara kita menghargai jejak-jejak kaki para leluhur di sepanjang pantai utara ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *