Ludruk Garingan Keliling Jatim, ‘Besut Jajah Deso’ Dimulai dari Surabaya

Berita, Budaya58 Dilihat

SURABAYA, tretan.news – Seniman ludruk Meimura atau yang dikenal dengan nama panggung Meijono akan memulai tur pertunjukan bertajuk Besut Jajah Deso Milangkori ke 10 kota di Jawa Timur.

Program ini mengusung konsep ludruk garingan, gaya pertunjukan yang ringan, spontan, dan dekat dengan realitas keseharian masyarakat.

Tur tersebut dirancang dengan pendekatan partisipatif dan kolaboratif. Selain menampilkan monolog khas tokoh Besut, setiap pementasan juga membuka ruang improvisasi bersama seniman lokal dan ditutup dengan dialog budaya yang melibatkan publik.

“Formatnya terbuka dan fleksibel. Kami ingin setiap kota punya warna sendiri dalam pertunjukan,” ujar Meimura dalam keterangannya.

Pementasan perdana dijadwalkan berlangsung di Balai RW VIII Gunung Anyar Emas, Surabaya, pada Sabtu, 4 April 2026 pukul 19.00 WIB. Dalam sesi diskusi budaya, akan hadir narasumber Imam Ghozali dan Henri Nurcahyo, dengan moderator Ribut Wijoto.

Setelah Surabaya, tur akan berlanjut ke Sidoarjo pada 10 April 2026 di Dewan Kesenian Sidoarjo, disusul Nganjuk pada 25 April. Sejumlah kota lain yang masuk dalam jadwal antara lain Mojokerto, Jombang, Malang, Kediri, Madiun, Blitar, dan Jember.

Program ini merupakan bagian dari skema Pemanfaatan Ruang Publik Dana Indonesiana yang difasilitasi oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Pengajuan dilakukan secara perorangan oleh Meimura sebagai bentuk inisiatif pelaku seni dalam menghidupkan kembali ruang-ruang budaya di masyarakat.

Selama ini, Meimura dikenal melalui pentas tunggalnya dengan memerankan tokoh Besut sekaligus Rusmini. Tokoh Besut sendiri merupakan bagian dari kesenian Besutan, yang berkembang dari kesenian Lerok, seni pertunjukan rakyat yang bersifat keliling dan sederhana.

Dalam perkembangannya, tokoh Besut menjadi karakter yang paling diminati penonton.

“Besut itu dekat dengan rakyat. Ceritanya sederhana, tapi menyentuh kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Sebagai seni tutur, Besutan memiliki karakter yang lentur dan adaptif. Pertunjukan tidak bergantung pada panggung besar atau tata artistik yang rumit. Sebaliknya, kekuatan utamanya terletak pada interaksi langsung dengan penonton serta kemampuan mengangkat isu sosial dan budaya secara spontan.

Di berbagai daerah, Besut kerap tampil dari desa ke desa, dari pasar ke alun-alun, membawa cerita yang merefleksikan kondisi masyarakat setempat.

Format ini pula yang diusung dalam tur Besut Jajah Deso Milangkori, dengan harapan dapat memperkuat keterlibatan komunitas lokal dalam proses berkesenian.

“Kami ingin ludruk kembali hadir di tengah masyarakat, bukan hanya sebagai tontonan, tapi juga ruang dialog,” tambah Meimura.

Melalui program ini, para pelaku seni berharap kesenian tradisional seperti ludruk tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan dinamika zaman, sekaligus tetap menjaga akar budaya yang menjadi identitasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *