Lebaran Jadi Ajang Pamer Kemewahan. Why?

Artikel, Berita97 Dilihat

TRETAN.news – Menjelang hari raya, suasana negeri ini selalu tampak religius. Masjid penuh, pengajian marak, ceramah bertebaran di televisi, radio, sampai ponsel. Kata-kata tentang kesabaran, keikhlasan, dan kesucian jiwa diputar seperti lagu wajib nasional.

Namun di balik suasana sakral itu, ada fenomena yang selalu datang tepat waktu, kriminalitas ikut naik seperti harga cabai.

Seolah-olah ada kesepakatan tak tertulis, menjelang hari raya, kebutuhan meningkat, iman diuji, dan sebagian orang memilih cara tercepat untuk menyelesaikan masalah. Bukan dengan upaya tetapi dengan menguras dompet orang lain.

Rumah kosong saat pemiliknya mudik menjadi ladang panen bagi pencuri. Motor yang diparkir sebentar kemudian bisa hilang. Penipuan online tiba-tiba menjamur, bertebaran paket mudik palsu sampai undian THR yang sebenarnya hanya undian kesialan.

Para polisi tentu sudah hafal pola ini. Setiap Ramadan patroli ditambah, spanduk peringatan dipasang, dan imbauan disiarkan. Namun kejahatan tetap saja muncul seperti menu takjil, selalu ada dan selalu dinanti oleh pihak yang melihat kelengahan.

Fenomena ini membuat kita diam-diam bertanya, mengapa masyarakat yang rajin ritual belum tentu rajin memperbaiki moral?

Dongeng Spiritual dan Inti Ajaran yang Tertinggal

Indonesia dikenal sebagai negeri religius. Jadwal ceramah kadang lebih padat daripada jadwal bus antar kota. Bahkan sebagian penyiar agama kini tampil seperti pendongeng spiritual, performanya glamour.

Kisah-kisah langit diperdagangkan dengan bumbu dramatis, lengkap dengan cerita malaikat yang mondar-mandir mencatat pahala seperti petugas parkir.

Sayangnya, inti ajaran sering tertinggal di belakang panggung. Yang ramai justru dongeng-dongeng spiritual yang membuat orang merasa sudah dekat dengan surga, padahal masih jauh dari kejujuran di dunia.

Dalam tradisi spiritual klasik sebenarnya dikenal empat tahapan, yaitu syariat, tarekat, hakikat dan makrifat.

Syariat adalah rumusan aturan dari tradisi
Tarekat adalah jalan menuju kesadaran.
Hakikat adalah pemahaman tentang kebenaran yang nyata.
Sedangkan makrifat adalah kewaskitaan kesadaran batin yang mendalam tentang Tuhan.

Hakikat bukan khayalan. Ia bukan sekadar perasaan religius setelah mendengar ceramah yang mengharukan. Hakikat adalah fase ketika seseorang mengimani sesuatu karena melihat kebenaran itu nyata dalam kehidupan.

Sayangnya, dalam praktik keagamaan sehari-hari, banyak orang berhenti di level ritual. Belajar agama itu tak ubahnya bersekolah yang berjenjang-jenjang,cari SD hingga perguruan tinggi.

Karena proses belajarnya cenderung stag sehingga proses pemahaman dan penghayatannya atas inti ajaran juga tidak merasuk dalam pikiran maupun kejiwaan.

Penerapannya hanya sebatas kulit, belum daging.
Puasa dijalankan, tetapi korupsi tetap jalan.
Zakat dibayarkan, tetapi kejujuran masih dinegosiasikan.
Takbir dikumandangkan, tetapi amplop proyek tetap diperebutkan.

Godaan Lebaran

Belum lama ini, seorang pria yang mengaku wartawan tertangkap dalam operasi tangkap tangan di Mojokerto. Ia diduga memeras seorang pengacara dengan ancaman pemberitaan. Dalihnya butuh untuk lebaran.

Barang bukti yang ditemukan tidak fantastis: hanya tiga juta rupiah dalam amplop putih. Jumlahnya kecil, tetapi simbolismenya besar.

Di negeri yang rajin ceramah ini, profesi yang seharusnya menjaga integritas publik pun bisa terseret dalam godaan amplop.

Di panggung politik, kabar lain muncul seperti episode serial yang tak pernah tamat. Dalam waktu dua bulan, tiga bupati di Jawa Tengah tertangkap operasi tangkap tangan karena dugaan suap dan fee proyek. Dalihnya idemdito, untuk Lebaran.

Barangkali mereka juga berpuasa.
Barangkali juga mereka ikut takbiran.
Tetapi tampaknya ada satu ibadah yang tertinggal, yaitu puasa pikiran, menghentikan nafsu dari keserakahan.

Festival Konsumerisme

Padahal filosofi hari raya sebenarnya sangat sederhana. Idul Fitri berarti kembali ke fitrah, kembali menjadi manusia yang bersih, jujur, dan penuh empati.

Puasa bukan sekadar menahan lapar. Ia adalah latihan menahan diri dari ego, keserakahan, dan dorongan mengambil yang bukan hak kita. Jika latihan itu berhasil, Idul Fitri seharusnya melahirkan manusia baru.
Namun kenyataannya kadang justru sebaliknya.

Begitu takbir selesai, sebagian orang kembali ke kebiasaan lama seperti seseorang yang baru saja menghapus aplikasi dosa lalu mengunduhnya lagi.

Dalam masyarakat yang semakin konsumtif, hari raya sering berubah menjadi festival belanja. Orang merasa harus membeli baju baru, sepatu baru, gawai baru, bahkan kadang utang baru. Padahal pesan spiritualnya justru tentang kesederhanaan dan solidaritas.

Ironisnya, ketika kebutuhan konsumsi meningkat, moralitas sering tertinggal di belakang.

Sebagian orang ingin terlihat sukses saat Lebaran, meskipun harus meminjam, menipu, atau bahkan mencuri.

Pada titik ini kita bisa memahami mengapa kriminalitas naik menjelang hari raya. Bukan semata karena kemiskinan. Sering kali juga karena gengsi sosial yang terlalu mahal.

Urutan Ajaran Terbalik

Melihat kenyataan ini, mungkin ada sesuatu yang perlu dibenahi dalam pola ajaran keagamaan.

Ritualitas ternyata belum otomatis membentuk moralitas. Bisa jadi yang perlu dikoreksi bukan hanya perilaku umat, tetapi juga tahapan pengajarannya.

Jika menafsirkan pola ajaran Nabi Muhammad, ada fakta menarik dalam sejarah dakwahnya. Ahmad – nama awalnya – diangkat menjadi nabi pada usia 40 tahun, sedangkan perintah ibadah formal seperti salat dan zakat turun sekitar usia 53 tahun.

Artinya, selama kurang lebih 13 tahun awal, ajaran yang disampaikan kepada para pengikutnya bukanlah ritual formal, melainkan pengenalan tentang Tuhan secara mendalam.

Fase ini dapat dipahami sebagai fase tarekat dan hakikat sebagai fase mengenal Tuhan secara sadar dan nyata. Dari pemahaman itu lahirlah kesadaran batin yang disebut makrifat atau kewaskitaan.

Seseorang yang sampai pada tahap ini akan bertindak dengan kesadaran ketuhanan. Ia tidak berbuat baik karena takut hukuman tetapi karena kesadarannya telah menyatu dengan nilai-nilai kebaikan.

Dalam bahasa sederhana, ketika manusia sudah “menuhan”, ia akan berbuat baik sesuai sifat Tuhan yang selalu berbuat baik.

Dalam hal ini pemahaman atas Tuhan bersifat internal, bukan eksternal. Tuhan benar-benar beserta kita, menyatu dengan diri, imanensi.

Dari tindakan menuhan yang berkembang secara komunal, timbullah kebiasaan berbuat baik dalam masyarakat. Ketika kebiasaan itu massiv menjadi tradisi maka lahirlah apa yang disebut syariat.

Dengan kata lain, syariat sejatinya adalah buah dari kesadaran spiritual, bukan sekadar kewajiban yang dipaksakan dari luar.

Hasil dari pola ajaran Nabi yang sedemikian rupa dalam tempo 23 tahun mampu mengubah peradaban yang semula jahiliyah, biadab, menjadi beradab.

Sedangkan bangsa kita yang mayoritas muslim, setelah 80 tahun merdeka apakah peradabannya sudah benar-benar beradab?

Ritual Tanpa Ruh

Yang terjadi sekarang sering justru kebalikannya.

Banyak orang belum memahami tarekat, belum menyentuh hakikat, apalagi mencapai makrifat tetapi sudah dituntut menjalankan syariat, itupun cenderung tekstual.

Akibatnya, agama dijalankan seperti daftar kewajiban administratif: harus salat, wajib puasa, menyerahkan zakat, tetapi ruh spiritualnya tidak mengemuka.

Ada yang mengatakan, banyak orang beragama begitu kering lantaran terkungkung oleh hafalan tekstual tanpa pemahaman makna, tafsir maupun filosofi.

Ritual tetap dilakukan, tetapi nilai moralnya tidak selalu tampak dalam keseharian.

Itu sebabnya kita sering melihat ironi, ritualitas meningkat tetapi moralitas tidak serta merta mengikuti

Mungkin yang perlu kita renungkan bukan hanya bagaimana merayakan hari raya, tetapi bagaimana memahami maknanya.

Sebab tanpa pemahaman hakikat, agama bisa berubah menjadi sekadar pertunjukan ritual.

Jika saja agama sudah menjadi pertunjukan, moralitas sering hanya menjadi dekorasi panggung.
Maka tak mengherankan apabila setiap tahun kita melihat ironi yang sama, takbir berkumandang di langit, tetapi di bumi banyak yang sibuk berburu amplop agar saat lebaran bisa pamer kemewahan.

Oleh:
Rokimdakas
Wartawan & Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *