Ironi, Makam Pencipta Lagu Kebangsaan Disamping Depo Sampah

Berita, Sosial, Tokoh27 Dilihat

SURABAYA, tretan.news – Hujan turun perlahan di kawasan makam Wage Rudolf Supratman di Surabaya pada peringatan Hari Musik Nasional 2026. Di tempat itulah sang pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya beristirahat.

Setiap tahun, para musisi, pegiat budaya, dan masyarakat datang untuk mengenang sosok yang melalui sebuah lagu mampu menyalakan semangat kebangsaan. Perayaan tahun ini berlangsung selama dua hari, 8–9 Maret.

Hadir Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo bersama Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak.

Dalam kesempatan itu, pemerintah menyerahkan bantuan alat musik bagi para pekerja seni binaan Institut Musik Jalanan. Bantuan tersebut diharapkan menjadi penyemangat bagi para musisi muda untuk terus berkarya.

Namun di tengah suasana penuh penghormatan itu, para tamu juga merasakan sesuatu yang mengganggu, bau dari depo sampah yang berada tidak jauh dari makam.

Kondisi tersebut sudah lama menjadi keluhan pengunjung. Ketua panitia peringatan Hari Musik Nasional, Heri “Lentho” Prasetyo, menyampaikan hal itu secara terbuka.

Menurutnya, musik Indonesia memiliki kekuatan luar biasa sebagai perekat bangsa. Lagu Indonesia Raya yang diciptakan Soepratman telah menjadi simbol kebangkitan nasional.

“Dari karya beliau kita belajar bahwa sebuah lagu dapat menyalakan semangat perjuangan dan meneguhkan identitas Indonesia,” kata Lentho.

Namun ia menilai penghormatan terhadap tokoh besar tidak cukup hanya melalui peringatan seremonial. “Di sekitar makam ini masih terdapat tempat penampungan sampah yang aromanya sangat mengganggu. Kondisi ini tentu kurang mencerminkan penghormatan terhadap situs sejarah,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah dapat mempertimbangkan pemindahan depo sampah tersebut agar kawasan makam menjadi lebih layak sebagai ruang penghormatan sejarah.

Harapan itu bukan tanpa alasan. Banyak pengunjung datang ke lokasi ini untuk berziarah atau mempelajari sejarah lahirnya lagu kebangsaan Indonesia.

Lagu Indonesia Raya sendiri memiliki perjalanan panjang dalam sejarah bangsa. Karya tersebut pertama kali diperdengarkan pada Kongres Pemuda 1928 dan kemudian menjadi simbol persatuan hingga Indonesia merdeka.

Bagi generasi muda, makam Soepratman seharusnya menjadi tempat belajar tentang sejarah kebangsaan.

Karena itu, penataan lingkungan di sekitarnya menjadi penting. Jika kawasan tersebut dikelola dengan baik, tempat itu berpotensi menjadi destinasi wisata sejarah yang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.

Menanggapi aspirasi tersebut, Emil Dardak menyatakan akan segera mempelajari persoalan itu.

“Kami akan melakukan penelitian dan mencari solusi,” katanya.

Menghormati Sejarah

Sementara itu, Giring Ganesha berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya sebagai musisi.

Ia mengisahkan bagaimana dahulu profesi musisi sering dipandang sebelah mata. Namun berkat ketekunan bersama band Nidji, ia membuktikan bahwa musik dapat membuka jalan kesuksesan.

Menurut Giring, perkembangan internet kini memberi kesempatan bagi musisi dari berbagai daerah di Indonesia untuk dikenal luas.

“Sekarang semua orang punya peluang yang sama di dunia musik,” ujarnya.

Tetapi di tengah optimisme itu, ada pesan yang lebih sederhana namun penting, yakni menghormati sejarah.
Sebab lagu kebangsaan tidak lahir begitu saja. Ia lahir dari mimpi, perjuangan, dan keberanian seorang anak bangsa.

Dan menghormati penciptanya bisa dimulai dari hal kecil, menjaga tempat peristirahatan terakhirnya tetap bersih, harum, dan bermartabat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *