SAMPANG, tretan.news – Hidup dalam keterbatasan dijalani Suryati (54), warga Dusun Durbugen, Desa Larlar, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang, Madura.
Ia harus bertahan di sebuah rumah reot berdinding anyaman bambu yang sudah berlubang, bersama sang suami dan seorang putri berusia 16 tahun. Ironisnya, sejak empat tahun terakhir, Suryati hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur karena penyakit yang dideritanya.
Kondisi memprihatinkan ini mengetuk hati Aliansi Wartawan Sampang (AWAS). Sebagai bentuk kepedulian, rombongan AWAS mendatangi rumah Suryati pada Sabtu (30/8/25) sore. Mereka sekaligus memberikan bantuan berupa paket sembako untuk meringankan beban keluarga.
Sesampainya di lokasi, rombongan AWAS disambut hangat warga setempat. Ketua AWAS, Achmad Jumaadi, tak kuasa menahan rasa prihatin melihat kondisi Suryati beserta keluarganya.
“Kedatangan kami ini merupakan wujud kepedulian terhadap sesama. Apalagi, Bu Suryati hidup dalam kondisi serba kekurangan, sedang sakit terbaring di tempat tidur, dan suaminya pun juga sakit,” ujarnya.
Cak Jum menegaskan, situasi yang dialami Suryati dan keluarganya seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah. Menurutnya, diperlukan langkah cepat, baik dalam aspek kesehatan maupun ekonomi, agar keluarga ini tidak semakin terpuruk.
“AWAS siap mengawal hingga Bu Suryati mendapat jalan keluar. Kami juga mengajak semua pihak untuk peduli. Jangan menunggu banyak uang untuk membantu, tapi mari kita kedepankan kepedulian dan edukasi,” tegasnya.
Ia berharap Pemkab Sampang turun langsung melihat kondisi tersebut agar segera ada solusi nyata.
“Kalau ada warga seperti ini, pemerintah desa harus segera melaporkan ke Pemkab supaya bisa mendapat penanganan cepat. Kasihan kalau dibiarkan begini,” tandasnya.
Sementara itu, dengan suara lirih, Suryati menyampaikan terima kasih atas perhatian yang telah diberikan AWAS Sampang dan para dermawan yang peduli terhadap nasib keluarganya.
“Saya ingin sembuh. Kasihan anak saya yang masih sekolah, sementara saya dan suami sama-sama sakit,” ucapnya singkat.
Kisah pilu Suryati menjadi potret nyata masih banyaknya masyarakat kecil yang hidup dalam keterbatasan, menanti uluran tangan dermawan dan perhatian serius dari pemerintah.