Biografi KH Abdul Fattah Yasin Diluncurkan di Surabaya, Warnai 100 Tahun NU

Berita, Budaya, Sosial28 Dilihat

SURABAYA, tretan.news — Buku biografi tokoh nasional dan ulama NU, KH Abdul Fattah Yasin: Santri, Pejuang, Negarawan, karya Dr. Wasid Mansyur resmi diluncurkan di Warung Kawatan, Kamis (12/2/2026).

Peluncuran ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan 100 tahun Nahdlatul Ulama.

Dalam peluncuran yang dihadiri aktivis, akademisi, dan pegiat literasi NU tersebut, Wasid menyatakan buku ini merekam perjalanan hidup KH Abdul Fattah Yasin sebagai santri yang berkiprah hingga panggung kenegaraan.

“KH Abdul Fattah Yasin adalah contoh nyata perjalanan seorang santri yang mendedikasikan hidupnya tidak hanya untuk pesantren, tetapi juga untuk kepentingan umat dan negara,” ujar Wasid dalam sambutannya.

Latar Belakang dan Pendidikan Pesantren

KH Abdul Fattah Yasin lahir di Surabaya, 26 Juni 1915, dari keluarga santri di lingkungan Pesantren Kawatan. Pendidikan awalnya ditempuh di Pesantren Demangan Bangkalan, sebelum melanjutkan belajar kepada ulama besar, termasuk KH Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng.

Menurut Wasid, rekam jejak pendidikan tersebut membentuk karakter kepemimpinan Fattah Yasin yang berakar kuat pada tradisi pesantren Ahlus Sunnah wal Jama’ah sekaligus adaptif terhadap dinamika kebangsaan.

Kiprah Organisasi dan Pemerintahan

Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, Fattah Yasin aktif dalam kegiatan sosial-keagamaan. Ia tercatat memimpin Persatuan Tani Nahdlatul Ulama (PERTANU) pada periode 1946–1973 dan memperjuangkan kesejahteraan petani dari kalangan warga NU.

Namanya semakin dikenal setelah Pemilu 1955, saat dipercaya menduduki posisi strategis dalam kabinet sebagai Menteri Sosial serta Menteri Muda Penghubung Ulama. Ia juga berperan dalam pendirian Majelis Ulama Pusat, yang pada masa awal republik berfungsi menyatukan pandangan ulama lintas organisasi Islam.

Relevansi bagi Generasi Muda

Wasid menilai kisah hidup KH Abdul Fattah Yasin penting untuk memahami kontribusi tradisi pesantren dalam pembangunan negara.

“Perjalanan beliau menunjukkan bagaimana nilai-nilai pesantren bertransformasi menjadi kekuatan sosial dan politik yang konstruktif bagi republik,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari berbagai kalangan yang hadir. Salah satunya, Bung Isnan Efendi, yang menilai peluncuran buku ini relevan dengan momentum seabad NU.

“Buku ini bukan sekadar dokumentasi sejarah, tetapi referensi penting bagi generasi muda NU untuk memahami peran ulama dalam membangun bangsa,” kata Isnan.

Peluncuran buku tersebut diharapkan dapat memperkaya literatur sejarah NU sekaligus mengenalkan kembali tokoh-tokoh pesantren yang berkontribusi pada kehidupan kenegaraan modern Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *