Amang Mawardi Luncurkan Buku ke-18, Bedah Puisi Karya M. Rohanudin

Artikel, Berita33 Dilihat

SURABAYA, Tretan.News — Di sebuah ruang yang sarat sejarah pers, Gedung A. Azis PWI Jatim, suasana Hari Pers baru lalu tidak hanya diwarnai pidato dan refleksi namun  juga dihiasi peluncuran sebuah buku yang mengajak pembaca menyelami jiwa puisi lewat sudut pandang jurnalistik.

Buku itu berjudul “Biografi Puisi – Jiwa Tampak Rohan”, karya Amang Mawardi. Karya ini menjadi buku ke-18 yang ia lahirkan sebuah capaian produktif dari seorang jurnalis senior yang tak berhenti menulis dan merawat daya cipta, (13/2/2026).

Pada momentum yang sama, komunitas Warumas (Wartawan Usia Emas) juga meluncurkan antologi puisi ke-8 berjudul “Tanpa Jeda”. Sebuah penanda bahwa usia tak pernah membatasi kreativitas.

Membaca Puisi dengan Kacamata Jurnalisme

“Biografi Puisi – Jiwa Tampak Rohan” bukan kumpulan puisi. Buku ini adalah tinjauan mendalam terhadap buku puisi tunggal “Bicaralah yang Baik-Baik” karya M. Rohanudin, seorang praktisi penyiaran yang pernah menjabat Direktur Utama RRI Pusat.

Amang menempatkan dirinya sebagai pembaca kritis sekaligus jurnalis yang menafsir. Ia membedah puisi-puisi Rohanudin dengan disiplin berpikir khas dunia pers: runtut, tajam, namun tetap peka rasa.

Di situlah letak keistimewaan buku ini—ia tidak terjebak pada bahasa akademik yang kaku, tetapi juga tidak kehilangan kedalaman estetikanya.

Dalam pengantarnya, Prof. Dr. Soetanto Soephiady mengaitkan karya Amang dengan gagasan kreativitas personal sebagaimana pernah dijelaskan oleh Jacob Bronowski.

Bronowski, ilmuwan dan penulis yang dikenal lewat serial dokumenter BBC The Ascent of Man, menekankan bahwa karya kreatif haruslah personal—lahir dari keunikan individu dan berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam konteks itu, Amang dinilai menghadirkan identitasnya sendiri. Gaya tulisannya tidak sekadar informatif, tetapi mencerminkan jati diri intelektual yang melekat.

Ia menjalin kreativitas dengan strategi kebudayaan: puisi tak sekadar dinikmati, tetapi dibaca sebagai bagian dari dinamika sosial dan nilai kemanusiaan.

Estetika yang Tetap Terjaga

Menariknya, meski bernuansa jurnalistik, buku ini tetap berpegang pada estetika cabang filsafat yang berbicara tentang keindahan dan apresiasi rasa.

Dalam tulisannya “Menelaah ‘Sukarno Bapakku’, Membedah Patriotisme M. Rohanudin”, Amang mengurai gagasan tentang Bung Karno sebagai Proklamator dan Bapak Bangsa dengan pendekatan kreatif, tidak terjebak pada glorifikasi atau kontroversi semata.

Pada tulisan “Puisi Bernyanyi ‘Sungai Ciliwung’, Otokritik Lingkungan Hidup”, ia memotret Sungai Ciliwung sebagai simbol kesadaran ekologis.

Deskripsinya detail, namun tidak bertele-tele menunjukkan disiplin jurnalistik yang berpadu dengan kehalusan rasa.

Sementara pada esai “Bahasa Paling Indah Adalah Puisi”, Amang menegaskan keyakinannya bahwa puisi adalah medium paling jujur untuk menyampaikan nilai kemanusiaan.

Di sanalah ia menafsirkan puisi “Bicaralah yang Baik-Baik” dengan bahasa yang indah, mengajak pembaca memahami bahwa sastra adalah ruang perjumpaan antara akal dan nurani.

Inspirasi dari Konsistensi
Peluncuran buku ini bukan sekadar seremoni. Ia menjadi pengingat bahwa kerja intelektual adalah perjalanan panjang yang membutuhkan konsistensi.

Di tengah dunia yang serba cepat dan dangkal, Amang Mawardi memilih jalan sunyi namun bermakna: membaca, menafsir, dan menulis kembali dengan tanggung jawab moral.

Reportase :
Rokimdakas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *