Rektorat Bungkam soal Skandal Korupsi UTM Madura

Artikel48 Dilihat

TRETAN.news – Tumpukan map berisi lembaran dokumen data anggaran itu digenggam erat oleh Solihin. Jarum jam di dinding ruang tunggu gedung rektorat Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Bangkalan, terus berdetak.

Rabu (21/10/2026) siang itu, Solihin bersama perwakilan Lembaga Swadaya Masyarakat Lumbung Informasi Rakyat (LSM LIRA) telah menunggu lebih dari 60 menit. Namun, pintu ruang pimpinan kampus negeri itu tak kunjung terbuka.

​Kesunyian di lorong rektorat seolah menjadi jawaban bisu atas kedatangan mereka. Kehadiran LIRA ke UTM bukan sekadar untuk agenda ramah tamah biasa.

Mereka datang membawa setumpuk data krusial terkait dugaan skandal korupsi UTM yang disinyalir bernilai puluhan miliar rupiah.

​Skandal ini mencuat dari rentetan kejanggalan dalam proyek pengadaan barang dan jasa di lingkungan kampus.

Namun, alih-alih mendapatkan ruang untuk uji data secara transparan, itikad baik untuk melakukan audiensi justru membentur tembok birokrasi yang tertutup rapat.

​Menembus Dinding Bisu Rektorat UTM

​Kekecewaan terpancar jelas dari wajah Bupati LIRA, Solihin. Pertemuan hari itu sebenarnya bukanlah kunjungan mendadak tanpa tata krama administrasi.

LIRA telah menempuh jalur birokrasi yang semestinya dengan melayangkan dua kali surat permohonan audiensi.

​Pihak rektorat UTM bahkan telah merespons dan secara mandiri menetapkan jadwal pertemuan pada hari Rabu tersebut. Namun, komitmen jadwal itu menguap begitu saja.

Sikap pihak kampus yang membiarkan perwakilan masyarakat menunggu tanpa kepastian dinilai tidak mencerminkan marwah keterbukaan sebuah institusi pendidikan tinggi.

​“Kami sangat kecewa. Kami sudah dua kali melayangkan surat audiensi, kemudian pihak rektorat sendiri yang meminta penjadwalan pada hari Rabu,” tegas Solihin dengan nada suara yang meninggi, memecah keheningan di pelataran kampus.

​Bagi Solihin, penghindaran ini justru memantik kecurigaan baru. “Kami datang sesuai jadwal yang ditentukan, tetapi setelah menunggu sekitar satu jam, kami tidak kunjung ditemui.

Kalau memang ada persoalan yang perlu dijelaskan, mengapa tidak dihadapi secara terbuka?” lanjutnya penuh tanda tanya.

​Jejak Dokumen Pengadaan Barang dan Jasa yang Dipertanyakan

​Akar dari sengkarut ini terletak pada dokumen tebal yang dibawa oleh tim investigasi LIRA.

Dokumen tersebut diklaim memuat rincian data pengadaan barang dan jasa di lingkungan kampus UTM yang patut disorot tajam.

​Hasil penelusuran awal LIRA mengindikasikan adanya jurang perbedaan antara laporan pengadaan di atas kertas dengan wujud realisasi di lapangan.

Ketidaksesuaian inilah yang memunculkan potensi kerugian keuangan negara dalam jumlah masif.

​Solihin menekankan bahwa dugaan penyimpangan ini tidak boleh hanya berhenti pada asumsi.

Temuan ini menuntut uji materi yang komprehensif, mulai dari pemeriksaan silang dokumen, klarifikasi alur anggaran, hingga tinjauan fisik di lapangan.

​Bagi lembaganya, polemik gagalnya audiensi ini hanyalah kulit luar dari substansi masalah yang jauh lebih besar.

Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah uang rakyat yang dialokasikan untuk kampus telah dieksekusi sesuai koridor hukum yang berlaku?

​Menuntut Keterbukaan Publik Institusi Pendidikan

​Sebagai lembaga akademik pencetak kaum intelektual, UTM memikul beban moral yang tinggi terkait integritas dan transparansi.

Solihin melontarkan kritik pedas bahwa sikap menutup pintu dari rektorat justru menjadi preseden buruk bagi iklim keterbukaan informasi publik.

​“Kami datang bukan untuk mencari sensasi atau membuat kegaduhan. Kami membawa berkas dan data yang perlu diklarifikasi,” ungkap Solihin, mencoba merasionalkan langkah lembaganya.

​Ia menilai, jika rektorat merasa seluruh proses administrasi dan proyek pengadaan telah berjalan bersih, semestinya mereka menyambut kedatangan LIRA dengan tangan terbuka.

Mengurai data bersama di meja perundingan adalah cara paling elegan untuk menepis rumor miring di masyarakat.

​“Jangan sampai sikap seperti ini justru menimbulkan tanda tanya yang semakin besar.

Kalau memang seluruh proses pengadaan sudah berjalan sesuai aturan, seharusnya tidak ada alasan untuk menghindari klarifikasi.

Buka datanya, jelaskan mekanismenya, dan jawab apa yang menjadi pertanyaan publik,” kecamnya.

​Persiapan Aksi Demonstrasi dan Laporan Aparat Penegak Hukum

​Kebuntuan komunikasi dengan pihak rektorat tidak menyurutkan langkah investigasi LIRA.

Sebaliknya, penolakan halus ini justru menjadi katalisator yang mempercepat eskalasi gerakan mereka.

​Lembaga ini menyatakan tidak akan diam dan membiarkan dokumen temuan mereka berdebu di dalam laci.

Rencana eskalasi pertama adalah memindahkan forum dari ruang tunggu rektorat ke jalanan.

Solihin memastikan, dalam waktu dekat, LIRA akan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran sebagai bentuk social control dan desakan moral.

​Lebih jauh dari sekadar unjuk rasa, langkah pamungkas telah disiapkan. LIRA akan membawa seluruh berkas temuan dugaan penyimpangan anggaran tersebut ke meja aparat penegak hukum (APH).

​“Kami tidak akan berhenti hanya karena audiensi hari ini tidak terlaksana. Kami juga akan melaporkan data dan temuan yang kami miliki kepada aparat penegak hukum agar semuanya diperiksa secara objektif dan transparan,” tandas Solihin.

Jika kelak penyidik menemukan unsur mens rea (niat jahat) dan alat bukti korupsi yang sah, LIRA mendesak agar hukum ditegakkan tanpa tebang pilih.

​Ruang Konfirmasi yang Masih Bertepuk Sebelah Tangan

​Hingga laporan investigasi ini diturunkan, bayang-bayang kebungkaman masih menyelimuti gedung rektorat Universitas Trunojoyo Madura.

Belum ada satu pun keterangan resmi atau siaran pers yang dikeluarkan oleh pihak rektorat untuk meluruskan tuduhan serius tersebut.

​Media ini telah berupaya memberikan ruang keberimbangan berita (cover both sides) dengan menghubungi Wakil Rektor II UTM, Ari Basuki.

Namun, konfirmasi terkait alasan pembatalan audiensi sepihak maupun tanggapan atas dugaan mega korupsi puluhan miliar itu belum juga mendapat respons positif.

​Sikap apatis dari pucuk pimpinan kampus ini menyisakan lubang besar dalam narasi transparansi akademik.

Di tengah harapan publik akan adanya lembaga pendidikan yang bersih dari praktik rasuah, bungkamnya UTM justru menjadi gema yang meresahkan.

​Pada akhirnya, kebenaran tentang ke mana mengalirnya puluhan miliar dana pengadaan barang dan jasa itu tidak akan bisa terus-menerus dikunci di balik pintu rektorat yang tertutup.

Seperti kata Solihin sebelum meninggalkan lorong kampus hari itu,

“Ini menyangkut kepentingan publik. Kami ingin semuanya terang benderang.” Pungkasnya.

Publik kini hanya bisa menunggu, akankah aparat penegak hukum yang kelak memaksa pintu itu terbuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *