BANGKALAN, Tretan.News – Menanggapi peluncuran buku tersebut, Bung Isnan Effendi menyampaikan apresiasinya terhadap upaya pendokumentasian tokoh-tokoh pesantren yang memiliki kontribusi dalam sejarah kebangsaan.
Menurut Isnan, kehadiran buku biografi tentang KH Abdul Fattah Yasin menjadi penting dalam momentum satu abad Nahdlatul Ulama, karena memperkuat ingatan kolektif tentang peran ulama dalam perjalanan republik.
“Peluncuran buku ini bukan sekadar agenda seremonial 100 tahun NU, tetapi langkah strategis untuk merawat memori sejarah pesantren yang telah berkontribusi nyata dalam pembangunan bangsa,” ujar Isnan Effendi.
Ia menilai sosok KH Abdul Fattah Yasin merepresentasikan tipologi santri yang mampu menjembatani nilai-nilai keagamaan dengan tanggung jawab kenegaraan. Karena itu, menurutnya, generasi muda perlu menjadikan figur tersebut sebagai referensi keteladanan.
“Figur KH Abdul Fattah Yasin menunjukkan bahwa tradisi pesantren tidak hanya melahirkan ulama, tetapi juga negarawan yang berpihak pada kepentingan umat dan rakyat kecil, terutama petani,” katanya.
Isnan menambahkan, dokumentasi biografis semacam ini juga berfungsi sebagai rujukan akademik sekaligus inspirasi gerakan literasi di lingkungan warga NU.
“Buku ini penting dibaca oleh kalangan santri, akademisi, hingga aktivis sosial, agar mereka memahami bahwa sejarah NU dibangun oleh tokoh-tokoh yang bergerak dari basis pesantren menuju ruang publik dan pemerintahan,” tuturnya.
Ia berharap peluncuran buku tersebut mendorong lahirnya karya-karya biografi tokoh NU lainnya, sehingga khazanah sejarah organisasi tetap terjaga dan dapat diakses generasi mendatang.







