Tidur Bersama Barang bekas, Janda dan Anak di Karang Dalam Bertahan Hidup dari pemulung

SAMPANG, Tretan.News – Hidup dalam keterbatasan ekonomi, seorang janda bernama Wakiah (41) terpaksa bertahan di sebuah rumah reot yang nyaris roboh bersama anaknya di Jalan Rajawali, Kelurahan Karang Dalam (Kota), Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, Madura.

Kondisi bangunan yang sudah tidak layak huni itu membuat keduanya setiap hari berada dalam ancaman bahaya, terutama saat musim hujan.

Rumah yang mereka tempati tampak rapuh dengan dinding berlubang dan atap yang bocor di sejumlah bagian.

 

Saat hujan turun, air kerap masuk dan menggenangi lantai rumah, bahkan memaksa Wakiah dan anaknya mengungsi ke rumah tetangga demi keselamatan.

Wakiah tinggal bersama putranya, Ibrahim (19), yang seharusnya masih mengenyam pendidikan. Namun, karena keterbatasan ekonomi, Ibrahim terpaksa putus sekolah dan memilih bekerja untuk membantu mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Wakiah diketahui telah lama hidup tanpa suami akibat perceraian.

Untuk bertahan hidup, Wakiah dan anaknya mengandalkan pekerjaan sebagai pemulung dan buruh serabutan, dengan penghasilan yang sangat minim, berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per hari. Penghasilan tersebut sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

“Saya tinggal bersama anak saya, Pak. Sekarang dia sudah bekerja dan tidak sekolah lagi karena ingin membantu saya. Kami memulung botol bekas di jalan dan mengerjakan apa saja yang bisa dilakukan demi bertahan hidup,” ujar Wakiah saat ditemui awak media, Kamis (5/2/2026).

Ia mengungkapkan, keterbatasan ekonomi membuat kondisi tempat tinggalnya tak pernah tersentuh perbaikan. Bahkan, rumah tersebut hanya memiliki satu sumber penerangan listrik yang menumpang dari rumah kerabat.

“Kalau hujan, air masuk ke rumah. Kami terpaksa tidur bersama barang-barang bekas hasil memulung. Dari situlah kami mendapat uang seadanya. Alhamdulillah, tetangga juga sering membantu kami,” tuturnya.

Dengan kondisi tersebut, Wakiah berharap adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah maupun pihak terkait agar keluarganya bisa menempati rumah yang lebih layak dan aman.

“Kami hanya berharap bisa punya tempat tinggal yang layak, supaya hidup lebih tenang dan tidak khawatir rumah ambruk,” harapnya.

Sementara itu, Lurah Karang Dalam, Rahmat Wahyudi, membenarkan adanya warga di wilayahnya yang tinggal di rumah tidak layak huni. Ia menyebutkan, Wakiah bersama anaknya memang diketahui bekerja sebagai pemulung dan buruh serabutan.

“Data kependudukan ibu tersebut sebelumnya masih tercatat di Kabupaten Sumenep dan baru beberapa waktu lalu berhasil dipindahkan ke Sampang.

Untuk kerabatnya yang dua orang, saat ini sudah menerima bantuan sembako dan BLT Kesra dari pihak kelurahan,” jelas Rahmat Wahyudi saat dikonfirmasi.

Ia menambahkan, pihak kelurahan telah melakukan koordinasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) serta Dinas Sosial Kabupaten Sampang. Dalam waktu dekat, pihaknya berencana turun langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi di lapangan.

“Insyaallah hari Senin kami akan turun langsung bersama pihak terkait untuk memastikan kondisi dan menindaklanjuti. Saat ini saya masih ada kegiatan,” pungkasnya.

Sebagai informasi, orang tua Toyibah serta dua kerabat Wakiah lainnya juga hidup dalam keterbatasan ekonomi. Keempatnya sama-sama bekerja sebagai pemulung dan buruh serabutan, bahkan kerap mengandalkan uluran tangan dari tetangga sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *