Menuju Desa Mandiri, KKN 39 UTM Latih Warga Buat Briket Batik Kelapa

Berita, Pendidikan173 Dilihat

SUMENEP, tretan.news – Selaras dengan misi besar pengabdian masyarakat tahun ini, Kelompok 39 KKN Universitas Trunojoyo Madura (UTM) sukses menggelar kegiatan bertajuk “Eko-Energi Kelapa: Pelatihan Pembuatan Briket Batok Kelapa”.

Kegiatan ini berlangsung khidmat di Balai Desa Billapora Rebba, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, pada Kamis, 15 Januari 2026 Pukul 09:00 WIB.

Program ini merupakan implementasi nyata dari tema besar KKN UTM yaitu “Penguatan Potensi Lokal Menuju Desa Mandiri Sejahtera”.

Dengan memanfaatkan melimpahnya limbah batok kelapa di Desa Billapora Rebba, mahasiswa berusaha mengubah limbah batok kelapa menjadi produk energi alternatif yang memiliki nilai jual tinggi.

Acara yang dihadiri oleh perangkat desa dan warga setempat ini dikemas secara interaktif melalui dua sesi utama. Sesi pertama berupa presentasi materi yang memaparkan peluang ekonomi briket di pasar lokal maupun ekspor.

Sesi kedua dilanjutkan dengan praktik pembuatan, di mana warga diajak langsung mengolah arang batok, mencampurnya dengan perekat alami, hingga melakukan pencetakan.

Penanggung Jawab Proker Eko-Energi Kelapa, Nebula Pleyades P.T. menjelaskan bahwa program ini adalah fondasi untuk membangun kemandirian ekonomi desa.

“Sesuai dengan tema KKN kami tahun ini, kami ingin menguatkan potensi lokal yang ada. Batok kelapa bukan lagi sampah, melainkan aset,” ujarnya.

Antusiasme warga terlihat saat sesi praktik berlangsung. Salah satu warga mengungkapkan bahwa pelatihan ini membuka pemahaman baru mengenai pemanfaatan limbah.

“Kami jadi paham bahwa limbah batok kelapa bisa dijadikan briket yang bisa digunakan untuk banyak keperluan, cara membuatnya juga mudah karena bahannya banyak ditemukan di desa. Terlebih lagi briket batok kelapa ternyata minim asap sehingga nyaman digunakan,” ungkap ibu Atik.

Melalui kegiatan ini, Kelompok 39 KKN UTM berharap masyarakat Desa Billapora Rebba dapat terus mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan.

Dengan terciptanya produk seperti briket, diharapkan mampu membuka pandangan Masyarakat untuk memanfaatkan limbah batok kelapa, baik untuk kegiatan usaha maupun keperluan rumahan.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan simbolis alat pencetak briket kepada pihak desa sebagai penunjang keberlanjutan program di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *