PASURUAN, TRETAN.news — Masalah ketersediaan air menjadi isu krusial di wilayah Pasuruan Raya yang dikenal sebagai daerah pusat industri, wisata, dan pertanian. Menanggapi hal tersebut, Ormas Formasy Praja Nusantara (FPN) melakukan audensi strategis ke Kantor Asper BKPH Tosari, KPH Pasuruan, pada Rabu (7/1/2026).
Kunjungan audensi ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum FPN, Dodik Purwoko, kegiatan ini bertujuan untuk menindaklanjuti mekanisme kerja sama terkait perlindungan sumber air dan kesadaran hukum bagi pengguna air tanah di wilayah lereng pegunungan.
Dalam kegiatan ini, FPN menggandeng sejumlah rekanan lembaga, di antaranya LSM Laskar Merah Putih Indonesia (LMPI) Marcab Pasuruan Raya yang dipimpin Sutikno, serta GM Grib Jaya Pasuruan Raya di bawah pimpinan Edy Siswanto (Edy Ambon).
Dodik Purwoko menegaskan bahwa membangun ketahanan pangan tanpa menjaga tata kelola air adalah sebuah kemustahilan. FPN berkomitmen membangun kesadaran etika sosial dan kepatuhan regulasi terhadap pemanfaatan air tanah.
“Bicara logistik dan ketahanan pangan dengan mengabaikan ketersediaan air sama artinya dengan melumpuhkan peradaban. Diperlukan sinergisitas utuh dari masyarakat, akademisi, hingga aparat penegak hukum tanpa ada ego sektoral antar-institusi,” tegas Dodik.
Kegiatan ini terinspirasi dari keberhasilan inisiasi di wilayah KPH Malang, FPN berencana menyukseskan program SPUNCAK ARJUNA (Sejuta Pohon Untuk Catchment Area) di lereng Gunung Arjuna. Fokus utama program ini adalah:
Pengkayaan Tanaman,Menanam pohon vegetasi yang mampu mengikat air di dalam tanah secara optimal.
Fungsi Ekologi & Ekonomi: Memilih tanaman penyerap karbon tinggi guna membuka peluang keterlibatan masyarakat dalam program Carbon Credit (Kredit Karbon).
Hal ini dinilai sangat mendesak, mengingat Pasuruan tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik dan industri lokal, tetapi juga menyuplai kebutuhan air untuk wilayah Sidoarjo, Surabaya, hingga Gresik.
Senada dengan Dodik, Ketua GM GRIB Jaya Pasuruan Raya, Edy Ambon, menyoroti kondisi hutan dan sumber air di Kabupaten Pasuruan yang kian memprihatinkan. Menurutnya, peran NGO sangat vital sebagai mitra pemerintah dalam mengawasi kelestarian hutan penyangga.
“Pemerintah punya instrumen yang lengkap, dan kami sebagai NGO siap mendukung. Mari saling menjaga lingkungan, hutan, dan air demi keberlangsungan kehidupan anak cucu kita,” tutup Edy Ambon.
Rangkaian kunjungan ini diakhiri dengan koordinasi ke kantor ATR/BPN serta diskusi bersama UPT PU SDA Pasuruan guna menyelaraskan data dan masukan teknis untuk kegiatan pelestarian 12 titik sumber air di wilayah Tosari dan sekitarnya.







